FileNya

Berita Terbaru
Berita PERMENDIKBUD Informasi-Guru Juknis SIMPATIKA Aplikasi NOT LAGU Kurikulum-2013 DAPODIK Buku-SD-MI Cara Rpp-Silabus-Kls-10 PERMEN RPP-Silabus-Kls-X RPP-Silabus-Kls-4 Sertifikasi US-UN Padamu-Siap Rpp-Silabus-Kls-7 Buku Rpp-Silabus-Kls-11 ADMINISTRASI Parenting RPP-Silabus Buku-SMK KEMENDAGRI PAUD GURU Surat Soal-Kls-5 RPP-Silabus-Kls-1 RPP-Silabus-Kls-5 Buku-SMA-MA RPP-Silabus-Kls-8 Soal Geografi RPP-Silabus-Kls-2 US-UN-SD Buku-SMP-MTs KEMKES Rpp-Silabus-Kls-9 Tekno SMK Ayu Ting Ting BOS Eny Sagita RPP-Silabus-SD DAK Soal-Kls-1 Soal-Kls-4 Story UKG US-UN-SMP-MTs PERANGKAT TK A PERMENKEU PIP Akreditasi Akreditasi TK-RA Definisi Padamu Negeri RPP US-UN-SMK UTS-KLS-6 Narrative Text PERATURAN RPP-Silabus-Agama-Kls-10 Rpp-Silabus-Kls-12 Soal-Kls-2 Ukuran Beasiswa Buku SMK 10 ERAPOR KEMENHUB KOMINFO MEDIA NUPTK PKB PUPNS Soal-Kls-3 Soal-Kls-6 Software UN Buku Kelas 4 CPNS EMIS Facebook Guru Pembelajar IPA IsNews Nasional Akreditasi SMA-MA Bahasa Indonesia Kisi-Kisi PP RPP-Silabus-Kls-6 RPP-Silabus-SMP SBK SKTP Seni DAPODIKDAS Fisika X Hardware KKM Lagu Matematika NPSN O2SN Operator Sekolah Otak POS PRAKERIN Promes Prota RPP-SILABUS-MTS SK Sehat Soal-Kls-12 Soal-Kls-4-K13 Tunjangan UAMBN UTS UTS-KLS-1 UTS-SMA-MA Ukuran Kertas A1 Dalam Pixel Ukuran Kertas A4 Dalam Pixel Akreditasi SD-MI Akreditasi SMK-MAK Akreditasi SMP BMKG BUKU PKLK 11 Browser DIKTI Demy Downloader Game IPA 5 Internasional Internet Tool Jadwal Jawa Kata Kulit LPIR Lagu PAUD/TK MENPAN Makalah Matematika-Kls-8 Materi PAI Materi PAI KTSP Materi-Kelas-8 Melly Goeslaw Messenger Metode OMBUDSMAN OPS OSN PERANGKAT TK B PNS Guru Pajak Perangkat SD-MI Pramuka RPP Penjaskes RPP SMK RPP SMK Kurikulum 2013 RPP-Silabus-Kls-3 Rocket Rockers SMK-XII/TI SMP SMP-7 Sejarah Silabus SMK Soal-Kls-5-K13 Stroke Tunjangan Profesi Guru. Guru UAS KLS 1 US UTS KLS 10 UTS KLS 11 UTS KLS 8 UTS-KLS-3 UTS-KLS-4 UTS-kLS-2 Ukuran Kertas A1 Ukuran Kertas A1 Dalam Cm Ukuran Kertas A1 Dalam Inc Ukuran Kertas A1 Dalam Mm Ukuran Kertas A2 Dalam Pixel Ukuran Kertas A3 Dalam Pixel Ukuran Kertas A4 Dalam Cm Ukuran Kertas A4 Dalam Inch Ukuran Kertas A4 Dalam Mm Ukuran Kertas A5 Dalam Pixel Unduh Rpp Bahasa Indonesia Smp/Mts Kelas 7

Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru TK,SD,SMP,SMA,SMK 2017
Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru TK,SD,SMP,SMA,SMK 2017 - Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (PKB) adalah kegiatan keprofesian yang wajib dilakukan secara terus menerus oleh guru dan tenaga kependidikan agar kompetensinya terjaga dan terus ditingkatkan. Kegiatan PKB sesuai yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri Negara dan Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya terdiri dari 3 (tiga) kegiatan yaitu: (1) Kegiatan Pengembangan Diri; (2) Karya Ilmiah; (3) Karya Inovatif. Kegiatan Pengembangan diri meliputi kegiatan diklat dan kegiatan kolektif guru.

Pada kegiatan pengembangan diri melalui diklat, guru akan mengembangkan kompetensi guru pada kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik. Untuk menguasai kompetensi pedagogik, seorang guru harus dapat menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif. Penguasaan hal-hal tersebut adalah suatu yang mutlak sebagai upaya untuk menjadi guru yang profesional.
Pada setiap komponen modul yang dikembangkan ini telah diintegrasikan beberapa nilai karakter bangsa, baik secara implisit maupun eksplisit yang dapat diimplementasikan selama aktivitas pembelajaran dan dalam kehidupan sehari-hari untuk mendukung pencapaian revolusi mental bangsa. Integrasi ini juga merupakan salah satu cara perwujudan kompetensi sosial dan kepribadian guru (Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007) dalam bentuk modul.

Modul ini merupakan salah satu media untuk pengembangan pedagogik guru secara terus menerus, karena guru dituntut untuk terus meningkatkan pengetahuan dan pengalaman pedagogik serta profesionalnya. Modul Pembinaan Karir Guru ini diharapkan dapat memfasilitasi guru lebih mandiri, aktif, profesional, kreatif dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.”

Taman Kanak-Kanak (TK)


Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru TK Modul A – J.
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru TK Modul A  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru TK Modul B  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul C  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul D  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul E  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul F 
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul G  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul H  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul I  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul J  

SEKOLAH DASAR (SD)

Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi lengkap Modul A – J.
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul A  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul B  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul C  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul D  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul E  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul F  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul G  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul H  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul I  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul J  

Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal lengkap Modul A – J.
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul A  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul B  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul C  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul D  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul E  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul F  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul G  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul H  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul I  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul J  

Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD lengkap Modul A – J.
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul A  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul B  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul C  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul D  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul E  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul F  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul G  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul H  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul I  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul J  

Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SENI BUDAYA SD lengkap Modul A – J.
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul A  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul B  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul C  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul D  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul E  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul F  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul G  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul H  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul I  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul J  


Modul PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017
  • Modul A PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul B PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul C PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017
  • Modul D PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul E PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul F PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul G PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul H PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul I PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul J PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 



Pendidikan Luar Biasa (PLB)

PLB Autis

  • Modul A PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Autis Edisi Revisi 2017 
  • Modul B PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Autis Edisi Revisi 2017 
  • Modul C PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Autis Edisi Revisi 2017 
  • Modul D PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Autis Edisi Revisi 2017 
  • Modul E PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Autis Edisi Revisi 2017 
  • Modul F PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Autis Edisi Revisi 2017 
  • Modul G PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Autis Edisi Revisi 2017 
  • Modul H PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Autis Edisi Revisi 2017 
  • Modul I PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Autis Edisi Revisi 2017 
  • Modul J PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Autis Edisi Revisi 2017 


PLB Tunadaksa

  • Modul A PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunadaksa Edisi Revisi 2017 
  • Modul B PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunadaksa Edisi Revisi 2017 
  • Modul C PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunadaksa Edisi Revisi 2017 
  • Modul D PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunadaksa Edisi Revisi 2017 
  • Modul E PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunadaksa Edisi Revisi 2017 
  • Modul F PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunadaksa Edisi Revisi 2017 
  • Modul G PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunadaksa Edisi Revisi 2017 
  • Modul H PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunadaksa Edisi Revisi 2017 
  • Modul I PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunadaksa Edisi Revisi 2017 
  • Modul J PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunadaksa Edisi Revisi 2017 


PLB Tunagrahita

  • Modul A PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunagrahita Edisi Revisi 2017 
  • Modul B PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunagrahita Edisi Revisi 2017 
  • Modul C PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunagrahita Edisi Revisi 2017 
  • Modul D PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunagrahita Edisi Revisi 2017 
  • Modul E PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunagrahita Edisi Revisi 2017 
  • Modul F PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunagrahita Edisi Revisi 2017 
  • Modul G PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunagrahita Edisi Revisi 2017 
  • Modul H PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunagrahita Edisi Revisi 2017 
  • Modul I PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunagrahita Edisi Revisi 2017 
  • Modul J PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunagrahita Edisi Revisi 2017 


PLB Tunanetra

  • Modul A PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunanetra Edisi Revisi 2017 
  • Modul B PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunanetra Edisi Revisi 2017 
  • Modul C PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunanetra Edisi Revisi 2017 
  • Modul D PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunanetra Edisi Revisi 2017 
  • Modul E PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunanetra Edisi Revisi 2017 
  • Modul F PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunanetra Edisi Revisi 2017 
  • Modul G PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunanetra Edisi Revisi 2017 
  • Modul H PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunanetra Edisi Revisi 2017 
  • Modul I PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Autis Edisi Revisi 2017 
  • Modul J PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Autis Edisi Revisi 2017 


PLB Tunarungu

  • Modul A PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunarungu Edisi Revisi 2017 
  • Modul B PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunarungu Edisi Revisi 2017 
  • Modul C PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunarungu Edisi Revisi 2017 
  • Modul D PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunarungu Edisi Revisi 2017 
  • Modul E PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunarungu Edisi Revisi 2017 
  • Modul F PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunarungu Edisi Revisi 2017 
  • Modul G PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunarungu Edisi Revisi 2017 
  • Modul H PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunarungu Edisi Revisi 2017 
  • Modul I PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunarungu Edisi Revisi 2017 
  • Modul J PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Tunarungu Edisi Revisi 2017 

[ads-post]


Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru IPA SMP lengkap Modul A – J.


  • Modul A PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru IPA SMP Edisi Revisi 2017 
  • Modul B PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru IPA SMP Edisi Revisi 2017 
  • Modul C PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru IPA SMP Edisi Revisi 2017 
  • Modul D PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru IPA SMP Edisi Revisi 2017 
  • Modul E PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru IPA SMP Edisi Revisi 2017 
  • Modul F PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru IPA SMP Edisi Revisi 2017 
  • Modul G PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru IPA SMP  Edisi Revisi 2017 
  • Modul H PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru IPA SMP Edisi Revisi 2017 
  • Modul I PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru IPA SMP Edisi Revisi 2017 
  • Modul J PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru IPA SMP Edisi Revisi 2017 
Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru IPS SMP lengkap Modul A – J. (KLIK DISINI)
Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PPKn SMP lengkap Modul A – J. (KLIK DISINI)
Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Bahasa Indonesia SMP lengkap Modul A – J. (KLIK DISINI)
Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Bahasa Inggris SMP lengkap Modul A – J. (KLIK DISINI)
Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Matematika SMP lengkap Modul A – J. (KLIK DISINI)
Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK / Penjas SMP lengkap Modul A – J. (KLIK DISINI)
Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SMP lengkap Modul A – J. (KLIK DISINI)

Modul PKB Bahasa Sunda Untuk SMP Edisi Revisi 2017
Modul A PKB Bahasa Sunda Untuk SMP Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul B PKB Bahasa Sunda Untuk SMP Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul C PKB Bahasa Sunda Untuk SMP Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul D PKB Bahasa Sunda Untuk SMP Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul E PKB Bahasa Sunda Untuk SMP Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul F PKB Bahasa Sunda Untuk SMP Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul G PKB Bahasa Sunda Untuk SMP Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul H PKB Bahasa Sunda Untuk SMP Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul I PKB Bahasa Sunda Untuk SMP Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul J PKB Bahasa Sunda Untuk SMP Edisi Revisi 2017 (disini)



Sekolah Menengah Atas (SMA)

Modul PKB Fisika Untuk SMA Edisi Revisi 2017



Modul PKB Kimia Untuk SMA Edisi Revisi 2017



Modul PKB Biologi Untuk SMA Revisi 2017



Modul PKB Bahasa Sunda Untuk SMA/SMK Edisi Revisi 2017

Modul A PKB Bahasa Sunda Untuk SMA/SMK Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul B PKB Bahasa Sunda Untuk SMA/SMK Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul C PKB Bahasa Sunda Untuk SMA/SMK Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul D PKB Bahasa Sunda Untuk SMA/SMK Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul E PKB Bahasa Sunda Untuk SMA/SMK Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul F PKB Bahasa Sunda Untuk SMA/SMK Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul G PKB Bahasa Sunda Untuk SMA/SMK Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul H PKB Bahasa Sunda Untuk SMA/SMK Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul I PKB Bahasa Sunda Untuk SMA/SMK Edisi Revisi 2017 (disini)
Modul J PKB Bahasa Sunda Untuk SMA/SMK Edisi Revisi 2017 (disini)

PP No 19/2017 Tunjangan Fungsional Dihapus, Tuai Penolakan
JAKARTA - Kebijakan pemerintah menghapus tunjangan fungsional bagi guru swasta yang belum menerima tunjangan profesi guru (TPG) menuai penolakan.

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengecam keputusan tersebut. Mereka menuntut Peraturan Pemerintah (PP) 19/2017 tentang Guru direvisi.

Selama ini aturan pemberian tunjangan fungsional tertuang dalam pasal 19 PP 74/2008 tentang Guru.

Di dalam pasal tersebut dijelaskan ada tujuh syarat untuk mendapatkan tunjangan fungsional. Seperti memiliki sertifikat profesi guru, menjadi guru tetap, dan usia maksimalnya 60 tahun.

Namun keberadaan tunjangan fungsional itu dihapus di dalam PP 19/2017 tentang revisi PP 74/2008 tentang Guru. Secara tegas di PP ini dinyatakan bahwa seluruh pasal 19 di PP 74/2008 dihapus.

Ketua Umum Pengurus Besar (PG) PGRI Unifah Rosyidi mengatakan keputusan pemerintah menghapus pasal tunjangan fungsional itu membuat guru swasta sedih dan marah.

’’Meskipun nominalnya rata-rata Rp 250 ribu per bulan, sangat ditunggu-tunggu oleh para guru,’’ katanya di Jakarta kemarin.

Apalagi bagi para guru yang mendapatkan gaji sangat kecil dari sekolahnya. Keberadaan tunjangan fungsional itu sangat membantu guru.

Dia mengatakan penghapusan tunjangan fungsional itu menunjukkan arogansi Kemendikbud dalam mengelola guru.

Unifah berharap PP 19/2007 itu direvisi. Dia mengatakan PGRI, sebagai induk ogranisasi profesi guru terbesar, siap duduk bersama dengan Kemendikbud.

Rekomendasi:
Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2017 Perubahan Atas PP No 74 Thn 2008 tentang Guru

Unifah mengatakan sempat ada kabar bahwa pemerintah hanya mengganti istilah dari tunjangan fungsional menjadi insentif.

Menurut dia pengubahan itu tidak tepat. Sebab guru adalah jabatan fungsional.

Sementara jika diganti dengan insentif, maka pemberian tunjangannya terkait dengan kinerja. ’’Tunjangannya sudah kecil, kalau dikaitkan dengan kinerja seperti kehadiran, bisa lebih kecil lagi,’’ paparnya.

Berdasarkan data Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud besaran tunjangan fungsional atau insentif guru swasta tahun ini sebesar Rp 400 miliar. Alokasi itu untuk membayar tunjangan fungsional sebanyak 117 ribu guru swasta.
[ads-post]
Jawa Barat mendapatkan alokasi paling banyak dengan 21 ribu guru. Kemudian disusul Jawa Timur dengan 19 ribu guru dan Jawa Tengah sebanyak 18 ribu guru.

Berdasarkan jenjang pendidikan, alokasi paling banyak untuk guru SD dan SMP (pendidikan dasar).

Dirjen GTK Kemendikbud Sumarna Surapranata mengatakan memang benar pasal tentang tunjangan fungsional dihapus.

Namun dia menegaskan tunjangan fungsional hanya berubah nama menjadi insentif. Dia beralasan pengubahan ini menyesuaikan regulasi di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

’’Guru tidak akan meributkan namanya ya. Yang penting uangnya tetap teralokasikan,’’ jelasnya. Pranata mengatakan lambat laun jumlah sasaran guru peneriman tunjangan fungsional akan turun.

Sebab banyak guru swasta yang mendapatkan kucuran TPG. Dia menegaskan guru swasta yang mendapatkan TPG otomatis tidak mendapatkan tunjangan fungsional lagi. (jpnn)

Pendaftaran Seleksi GTK NON PNS SILN (Sekolah Indonesia Luar Negeri)

Pendaftaran Seleksi GTK NON PNS SILN (Sekolah Indonesia Luar Negeri) 2017

Dalam rangka mempersiapkan calon pengganti Guru dan Tenaga Kependidikan Sekolah Indonesia Luar Negeri yang akan berakhir masa tugasnya, Kementerian pendidikan dan Kebudayaan RI membuka kesempatan bagi Guru dan Tenaga Kependidikan Non PNS yang memenuhi persyaratan, seta berminat untuk diangkat menjadi guru dan tenaga kependidikan pada Sekolah Indonesia Luar Negeri berdasarkan perjanjian kerjasama 2 (dua ) dan dapat diperpanjang sesuai peraturan yang berlaku.

Persyaratan.
  1. WNI
  2. berusia minimal 40 tahun pada tanggal 1 Januari 2017
  3. Sehat jasmani, rohani dan bebas NARKOBA
  4. Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum penjara atau kurungan
  5. Tida pernah diberhentikan dengan hormat atau tidak hormat sebagai PNS/Anggota TNI/POLRI.
  6. Tidak sedang menjalani perjanijian/kontrak kerja/ikatan dinas pada instansi pemerintah
  7. Mampu mengajar multisubject
[ads-post]
Jadwal
  1. Pengumuman resmi seleksi 5 Juli 2017
  2. Waktu pendaftaran s.d 19 Juli 2017
  3. Seleksi Kualifikasi calon pelamar 20-22 Juli 2017
  4. Pengumuman final 24 Juli 2017
Lampiran Surat





Sumber: kemdikbud.go.id

Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru TK Revisi 2017
Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru TK Revisi 2017 - Anak yang sehat, cerdas, berpenampilan menarik, dan berakhlak mulia merupakan dambaan setiap orang tua. Agar dapat mencapai hal tersebut terdapat berbagai kriteria yang harus terpenuhi dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, salah satunya adalah faktor keturunan atau genetika. Namun, selain faktor keturunan masih terdapat faktor lain yang mempengaruhi kualitas seorang anak.

Kualitas seorang anak dapat dinilai dari proses tumbuh kembang. Proses tumbuh kembang merupakan hasil interaksi faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik/keturunan adalah faktor yang berhubungan dengan gen yang berasal dari ayah dan ibu, sedangkan faktor lingkungan meliputi lingkungan biologis, fisik, psikologis, dan sosial.

Pertumbuhan dan perkembangan mengalami peningkatan yang pesat pada usia dini, yaitu dari 0 sampai 5 tahun. Masa ini sering juga disebut sebagai fase ”Golden Age”. Golden age merupakan masa yang sangat penting untuk memperhatikan tumbuh kembang anak secara cermat agar sedini mungkin dapat terdeteksi apabila terjadi kelainan. Selain itu, penanganan kelainan yang sesuai pada masa golden age dapat meminimalisir kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga kelainan yang bersifat permanen dapat dicegah.

Deteksi tumbuh kembang anak meliputi deteksi dari aspek fisik, psikologi, dan sosial. Deteksi tersebut harus dilakukan secara teratur dan berkesinambungan. Sedini mungkin deteksi dapat dilakukan oleh guru maupun orang tua. Selain itu deteksi tumbuh kembang anak juga dapat dilakukan oleh masyarakat melalui kegiatan posyandu dan oleh guru di sekolah. Oleh karena itu, pengetahuan tentang deteksi dini pertumbuhan

dan perkembangan anak perlu dimiliki oleh orang tua, guru, dan masyarakat.
Modul dengan topik Karakteristik Tumbuh Kembang Anak Taman Kanak-Kanak ini merupakan modul level 1 dari 10 level modul yang disajikan pada Diklat Guru Pembelajar bagi Guru TK Pasca UKG. Secara lengkap ke 10 level modul yang dimaksud adalah :

1. Deteksi Tumbuh Kembang Anak Usia Dini
2. Teori Bermain dan Perkembangan Anak TK
3. Kurikulum dan Pembelajaran di TK
4. Strategi Pengembangan dan Pembelajaran Anak TK
5. Teknologi Informasi dalam Pembelajaran di TK
6. Media Pembelajaran di TK
7. Komunikasi yang Efektif bagi Guru TK
8. Penilaian di TK
9. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
10. Penilaian Kinerja dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru TK

Modul ini terdiri atas materi pokok, yaitu konsep dasar pertumbuhan dan perkembangan, tugas perkembangan anak TK, Deteksi dini tumbuh kembang anak TK, permasalahan dan gangguan anak TK dalam bidang pengembangan serta intervensinya. Pembahasan secara lebih spesifik akan disajikan pada setiap materi pokok dalam modul ini. Untuk masing-masing materi pokok, akan disajikan latihan, rangkuman, serta evaluasi dan tindak lanjutnya.

Modul ini terintegrasi dengan lima nilai utama penguatan pendidikan karakter yaitu religius,nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas. Nilai religius tercermin dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain, perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaanNya. Sub nilai karakter religius : cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama lintas agama, antibuli dan kekerasan,persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, dan melindungi yang kecil dan tersisih.

Nilai Karakter Nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Sub nilai karakter nasionalis: apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin dan menghormati keragaman budaya, suku dan agama.

Nilai Karakter Mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Subnilai kemandirian antara lain etos kerja (kerja keras), tangguh tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat
Nilai Karakter Gotong Royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerjasama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, bersahabat dengan orang laindan memberi bantuan pada mereka yang miskin, tersingkir dan membutuhkan pertolongan. Subnilai gotong royong antara lain menghargai, kerjasama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolongmenolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, sikap kerelawanan
[ads-post]


Taman Kanak-Kanak (TK)


Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru TK Modul A – J.
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru TK Modul A  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru TK Modul B  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul C  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul D  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul E  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul F 
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul G  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul H  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul I  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD TK Modul J  


Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD-SDLB 2017 - Guru mempunyai kewajiban untuk selalu memperbaharui dan meningkatkan kompetensinya melalui kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan sebagai esensi pembelajar seumur hidup. Untuk mendukung pengembangan pengetahuan dan keterampilan tersebut, dikembangkan modul untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan yang berisi topik-topik penting. Adanya modul ini memberikan kesempatan kepada guru untuk belajar lebih mandiri dan aktif. Modul ini juga digunakan sebagai bahan ajar dalam kegiatan diklat tatap muka langsung atau tatap muka kombinasi (in-on-in).

Modul pengembangan keprofesian berkelanjutan yang berjudul “Karakteristik dan Pengembangan Potensi Peserta Didik” merupakan modul untuk kompetensi pedagogik guru pada Kelompok Kompetensi A (KK A). Materi modul dikembangkan berdasarkan Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007, kompetensi Pedagogik yang pertama dan keenam yaitu tentang Karakteristik Peserta Didik dan Pengembangan Potensi Peserta Didik. Penguasaan guru atas konsep dan implementasi dari kedua kompetensi inti ini membekali guru untuk menghantarkan peserta didik asuhannya secara percaya diri memperoleh pencapaian terbaik mereka sesuai dengan karakteristiknya. Dengan demikian, potensi yang dimiliki seluruh peserta didik dapat mewujud dalam bentuk prestasi yang beragam secara optimal. Mengingat peserta didik adalah subjek yang akan dibelajarkan guru perlu termotivasi, bekerja keras, dan kreatif untuk mengenal karakteristik dan potensi peserta didik serta cara mengembangkannya.

Pada beberapa komponen modul yang relevan telah diintegrasikan beberapa nilai karakter bangsa, baik secara eksplisit maupun implisit. Berdasarkan karakteristik materi modul yang membahas tentang aspek kognitif dan non-kognitif peserta didik, ruang lingkup kajian materi modul ini sejatinya dapat memfasilitasi penguatan sebagian besar nilai-nilai karakter yang diusung dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Pendahuluan
Nilai-nilai ini dapat diimplementasikan selama aktivitas pembelajaran, dalam melaksanakan tugas sebagai guru, dan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat mendukung pengembangan kompetensi sosial dan kepribadian guru. Dengan demikian diharapkan guru dapat menjadi teladan bagi peserta didik yang diasuhnya dan masyarakat di sekitarnya.
[ads-post]

SEKOLAH DASAR (SD)

Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi lengkap Modul A – J.
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul A  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul B  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul C  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul D  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul E  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul F  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul G  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul H  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul I  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Atas / Tinggi Modul J  

Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal lengkap Modul A – J.
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul A  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul B  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul C  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul D  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul E  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul F  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul G  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul H  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul I  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SD Kelas Bawah / Awal Modul J  

Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD lengkap Modul A – J.
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul A  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul B  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul C  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul D  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul E  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul F  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul G  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul H  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul I  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru PJOK SD Modul J  

Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru SENI BUDAYA SD lengkap Modul A – J.
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul A  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul B  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul C  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul D  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul E  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul F  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul G  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul H  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul I  
  • Modul PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Guru Seni Budaya SD Modul J  


Modul PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017
  • Modul A PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul B PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul C PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul D PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul E PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul F PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul G PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul H PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul I PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 
  • Modul J PKB Bahasa Sunda Untuk SD/SDLB Edisi Revisi 2017 

Permendikbud No 14 Tahun 2017 Ijazah Sertifikat Hasil Ujian Nasional

Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2017 Perubahan Atas PP No 74 Thn 2008 tentang Guru

Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 8
Sertifikasi Pendidik bagi calon Guru dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel.
Ketentuan Pasal 10 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 1O
(1) Sertifikat Pendidik ditetapkan oleh pemimpin perguruan tinggi. Sertifikat Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diregistrasi oleh Menteri. Sertifikat Pendidik sah berlaku bagi guru untuk
melaksanakan tugas setelah mendapat nomor registrasi Guru.

Calon Guru dapat memperoleh lebih dari satu Sertifikat Pendidik, tetapi hanya diberi satu nomor registrasi Guru.

5. Di antara Pasal 10 dan Pasal 11 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal l0A sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 10A
(1) Setiap orang yang memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan oleh satuan pendidikan, baik
yang sudah atau belum memenuhi kualifikasi akademik S-l/D-IV dan tidak memiliki Sertifikat Pendidik dapat diangkat menjadi Guru.
(21 Pengangkatan Guru yang memiliki keahlian khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan ketentuan sebagai berikut: a. diperuntukkan bagi Guru produktif pada
SMK;
b. belum terdapat program studi di perguruan tinggi yang menghasilkan lulusan di bidang keahlian khusus; dan
c. tidak diperuntukkan untuk mengisi formasi khusus pegawai negeri sipil.

(3) Pengangkatan menjadi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah lulus uji kesetaraan dan uji kelayakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Uji kesetaraan sebagaimana dimalsud pada ayat (3) merupakan penyetaraan pemenuhan kualifikasi akademik S- i / D-IV. Uji kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan pemenuhan Sertifikasi. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan uji kesetaraan dan uji kelayakan ebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 12 dihapus.
Ketentuan Pasal sebagai berikut:
13 diubah

Pasal 13
sehingga berbunyi
(l) Perguruan tinggr penyelenggara pendidikan profesi harus memenuhi kriteria:
a. memiliki program studi yang relevan dan terakreditasi paling rendah B atau sebutan
lain yang setara;
b. memiliki pendidik dan tenaga kependidikan yang sesuai dengan standar nasional pendidikan tinggi; dan
c. memiliki sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai sesuai dengan standar nasional pendidikan tinggi. Selain kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menteri yang enyelenggarakan urllsan pemerintahan di bidang pendidikan tinggi dapat menetapkan kriteria tambahan untuk penetapan perguruan tinggi penyelenggara pendidikan profesi atas dasar
pertimbangan:
[ads-post]
a. tercapainya pemerataan cakupan pelayanan penyelenggaraan pendidikan profesi;
b. letak dan kondisi geografis; dan/atau
c. kondisisosial-ekonomi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (21 diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan tinggi.
8. Pasal 14 dihapus.
9. Ketentuan Pasal sebagai berikut:
15 diubah sehingga berbunyi
Pasal 15
T\rnjangan Profesi diberikan kepada:

a. Guru;
b. Guru yang diberi tugas sebagai kepala satuan pendidikan; atau
c. Guru yang mendapat tugas tambahan. Tugas tambahan sebagaimana dimaksud pada
ayat (l) huruf c terdiri atas:
a. wakil kepala satuan pendidikan;
b. ketua program keahlian satuan pendidikan;
c. kepala perpustakaan satuan pendidikan;
d. kepala laboratorium, bengkel, atau unit produksi satuan pendidikan;
e. pembimbing khusus pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusi atau pendidikan terpadu; atauf. tugas tambahan selain huruf a sampai dengan huruf e yang terkait dengan
pendidikan di satuan pendidikan. Dalam hal Guru diangkat sebagai pengawas satuan pendidikan, akan diberikan tunjangan profesi pengawas satuan pendidikan dan tidak diberikan Tunjangan Profesi.
T\rnjangan Profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dengan syarat sebagai berikut:
a. memiliki 1 (satu) atau lebih Sertifikat Pendidik;
b. memiliki nomor registrasi Guru;
c. memenuhi beban kerja;
d. aktif mengajar sebagai Guru mata pelajaran dan/atau Guru kelas pada satuan pendidikan yang sesuai dengan peruntukan Sertifikat Pendidik yang dimiliki;
e. berusia paling tinggi 60 (enam puluh) tahun;
f. tidak terikat sebagai tenaga tetap pada instansi selain satuan pendidikan tempat bertugas;
g. memiliki nilai hasil penilaian kinerja minimal baik; dan
h. mengajar di kelas sesuai rasio Gurrr dan siswa.

Guru yang memiliki lebih dari 1 (satu) Sertifikat Pendidik dan/atau mengajar lebih dari 1 (satu)
satuan pendidikan hanya berhak mendapat 1 (satu) T\,rnjangan Profesi. Pemenuhan beban kerja sebagai Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c dapat diperoleh dari ekuivalensi beban kerja tugas tambahan Guru sebagai berikut:

| Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2017 Perubahan Atas PP No 74 Thn 2008 tentang Guru

| Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2017 Perubahan Atas PP No 74 Thn 2008 tentang Guru

Permendikbud No 23 Tahun 2017 Tentang Hari Sekolah

Permendikbud No 23 Tahun 2017 Hari Sekolah

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2017
TENTANG
HARI SEKOLAH

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Sekolah adalah adalah bentuk kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan Taman Kanak-kanak (TK)/Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB)/Raudatul athfal (RA), Sekolah Dasar (SD)/Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)/Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB)/Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB)/Madrasah Aliyah (MA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.
2. Hari Sekolah adalah jumlah hari dan jam yang digunakan oleh guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan di Sekolah.
3. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
4. Tenaga Kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan yang mencakup pengelola satuan pendidikan, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, teknisi sumber belajar, tenaga administrasi, psikolog, terapis, tenaga kebersihan dan keamanan, serta tenaga dengan sebutan lain yang bekerja pada satuan pendidikan.
5. Sumber Daya adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan, masyarakat, dana, sarana, dan prasarana.
- 4 -
6. Peserta Didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
Pasal 2
(1) Hari Sekolah dilaksanakan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.
(2) Ketentuan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), termasuk waktu istirahat selama 0,5 (nol koma lima) jam dalam 1 (satu) hari atau 2,5 (dua koma lima) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.
(3) Dalam hal diperlukan penambahan waktu istirahat sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Sekolah dapat menambah waktu istirahat melebihi dari 0,5 (nol koma lima) jam dalam 1 (satu) hari atau 2,5 (dua koma lima) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.
(4) Penambahan waktu istirahat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak termasuk dalam perhitungan jam sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 3
(1) Hari Sekolah digunakan oleh Guru untuk melaksanakan beban kerja Guru.
(2) Beban kerja Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. merencanakan pembelajaran atau pembimbingan;
b. melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan;
c. menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan;
d. membimbing dan melatih Peserta Didik; dan
e. melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja Guru.

(3) Beban kerja Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 4
Hari Sekolah digunakan oleh Tenaga Kependidikan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya.
Pasal 5
(1) Hari Sekolah digunakan bagi Peserta Didik untuk melaksanakan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
(2) Kegiatan intrakurikuler sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk pemenuhan kurikulum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Kegiatan kokurikuler sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk penguatan atau pendalaman kompetensi dasar atau indikator pada mata pelajaran/bidang sesuai dengan kurikulum.
(4) Kegiatan kokurikuler sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi kegiatan pengayaan mata pelajaran, kegiatan ilmiah, pembimbingan seni dan budaya, dan/atau bentuk kegiatan lain untuk penguatan karakter Peserta Didik.
(5) Kegiatan ekstrakurikuler sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kegiatan di bawah bimbingan dan pengawasan Sekolah yang bertujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian Peserta Didik secara optimal untuk mendukung pencapaian tujuan pendidikan.
(6) Kegiatan ekstrakurikuler sebagaimana dimaksud pada ayat (5) termasuk kegiatan krida, karya ilmiah, latihan olah-bakat/olah-minat, dan keagamaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
[ads-post]
(7) Kegiatan keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) meliputi aktivitas keagamaan meliputi madrasah diniyah, pesantren kilat, ceramah keagamaan, katekisasi, retreat, baca tulis Al Quran dan kitab suci lainnya.
Pasal 6
(1) Kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler dalam pelaksanaan Hari Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dapat dilaksanakan di dalam Sekolah maupun di luar Sekolah.
(2) Pelaksanaan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler baik di dalam Sekolah maupun di luar Sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan kerja sama antarsekolah, Sekolah dengan lembaga keagamaan, maupun Sekolah dengan lembaga lain yang terkait.
Pasal 7
(1) Ketentuan Hari Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) tidak berlaku bagi Peserta Didik TK/TKLB/RA atau sederajat pada sekolah keagamaan lainnya.
(2) Peserta Didik berkebutuhan khusus dan layanan khusus dapat mengikuti ketentuan Hari Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) sesuai dengan jenis kekhususan.
Pasal 8
Penetapan Hari Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mulai dilaksanakan pada tahun pelajaran 2017/2018.
Pasal 9
(1) Dalam hal kesiapan sumber daya pada Sekolah dan akses transportasi belum memadai, pelaksanaan ketentuan Hari Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dapat dilakukan secara bertahap.


| Permendikbud No 23 Tahun 2017 Tentang Hari Sekolah

| Permendikbud No 23 Tahun 2017 Tentang Hari Sekolah

Filenya.com

{google-plus#https://plus.google.com/+FilenyaCom/}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget