Buku PJOK Kelas 12 Kurikulum 2013-Kurikulum Nasional SMA-SMK-MA

Buku PJOK Kelas 12 Kurikulum 2013 SMA-SMK-MA Revisi 2015 Pemahaman terhadap isi, makna, dan tujuan mata pelajaran PJOK belum dipahami secara mendalam. Prinsip pembelajaranpun, belum memberi manfaat bagi perkembangan kejiwaan pesertadidik. Bahkan, pelajaran PJOK seringkali dimasukkan ke dalam kelompok mata pelajaran tambahan atau pelengkap saja. Padahal, konsep pelajaran PJOK yang mas

Buku PJOK Kelas 12 Kurikulum 2013-Kurikulum Nasional SMA-SMK-MA

Pemahaman terhadap isi, makna, dan tujuan mata pelajaran PJOK belum dipahami secara mendalam. Prinsip pembelajaranpun, belum memberi manfaat bagi perkembangan kejiwaan pesertadidik. Bahkan, pelajaran PJOK seringkali dimasukkan ke dalam kelompok mata pelajaran tambahan atau pelengkap saja. Padahal, konsep pelajaran PJOK yang masuk dalam kelompok B struktur kurikulum 2013, yaitu kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan konten kearifan lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah.

Pelajaran PJOK adalah sebagai bagian dari pencapaian kompetensi dasar pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan. Dalam stuktur PJOK dengan alokasi waktu pelajaran 3 jam setiap minggu, Mata pelajaran pendidikan jasmani,olahraga dan kesehatan ini diintegrasikan dengan pengembangan budaya lokal, hal ini berarti budaya lokal yang berkaitan dengan konteks gerak dapat dimasukkan ke dalam kompetensi inti dan kompensi dasar yang sudah ada, namum apabila tidak dapat diintegrasikan ke dalam kompetensi dasar yang ada, maka daerah/ sekolah dapat merumuskan kompetensi dasar tersendiri.

Struktur Kurikulum 2013 ini, mata pelajaran PJOK memiliki konten memberi sumbangan mengembangkan kompetensi gerak dan gaya hidup sehat, dan memberi warna pada pendidikan karakter bangsa. Pembelajaran PJOK dengan kearifan lokal akan memberi apresiasi terhadap multikultural yaitu mengenal permainan dan olahraga tradisional yang berakar dari budaya suku bangsa Indonesia dan dapat memberi sumbangan pada pembentukan karakter. Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan pada penjelasan Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 37 dituliskan, bahwa bahan kajian pendidikan jasmani, dan olahraga dimaksudkan untuk membentuk karakter pesertadidik agar sehat jasmani dan rohani, dan menumbuhkan rasa sportivitas. Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan ditekankan untuk mendorong penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap mental, emosional, sportivitas, spiritual, dan sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat.

Selain tujuan utama tersebut dimungkinkan adanya tujuan pengiring, tetapi porsinya tidak dominan. Sesuai dengan penjelasan tersebut Freeman (2007: 27-28) menyatakan bahwa pendidikan jasmani menggunakan aktivitas jasmani untuk menghasilkan pesertadidik.Pendidikan jasmani memperlakukan setiap pesertadidik sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak lagi menganggap individu sebagai pemilik jiwa dan raga yang terpisah, sehingga di antaranya dianggap dapat saling mempengaruhi.Pendidikan jasmani merupakan bidang kajian yang luas yang sangat menarik dengan titik berat pada peningkatan pergerakan manusia (human movement). Pendidikan jasmani menggunakan aktivitas jasmani sebagai wahana untuk mengembangkan setiap individu secara menyeluruh, mengembangkan pikiran, tubuh, dan jiwa menjadi satu kesatuan, hingga secara konotatif dapat disampaikan bahwa “suara pikiran adalah suara tubuh”. Sementara itu, Marilyn M. Buck dan kawan-kawan (2007:15) menerjemahkan pendidikan jasmani sebagai kajian, praktik, dan apresiasi atas seni dan ilmu gerak manusia (human movement).

Pendidikan jasmani merupakan bagian dari proses pendidikan secara keseluruhan. Gerak merupakan sifat alamiah dan merupakan ciri dasar eksistensi manusia sebagai mahluk hidup.Pendidikan jasmani bukan merupakan bidang kajian yang tertutup.Perubahan yang terjadi di masyarakat, perubahan teknologi, pemeliharaan kesehatan, dan pendidikan secara umum membawa dampak bagi kualitas program pendidikan jasmani. Hakikat pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan diberikan di sekolah untuk membentuk “insan yang berpendidikan secara jasmani (physically educated person)”. National Standards for Physical Education (NASPE) sebagaimana yang dikutip oleh Michel W. Metzler (2005:14) menggambarkan sosok ini dengan syarat dapat memenuhi standar:

(1) Mendemonstrasikan kemampuan keterampilan motorik dan pola gerak yang diperlukan untuk akan konsep gerak, prinsip-prinsip, strategi, dan taktik sebagaimana tanggung jawab personal dan sosial berupa respek terhadap diri sendiri untuk kesehatan, kesenangan, tantangan, ekspresi diri, dan atau interaksi sosial. Berangkat dari pandangan yuridis dan akademis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Mengingat tantangan yang berat bagi seorang guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan untuk menjalankan profesinya dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013. Maka Kurikulum 2013 dikembangkan dengan penyempurnaan pola pikir, sebagai berikut:
  1. Pola pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada pesertadidik. Pesertadidik harus memiliki pilihan-pilihan terhadap materi yang dipelajari untuk memiliki kompetensi yang sama;
  2. Pola pembelajaran satu arah (interaksi guru-pesertadidik) menjadi pembelajaran interaktif (interaktif guru-pesertadidik-masyarakat lingkungan alam, sumber/media lainnya);
  3. Pola pembelajaran terisolasi menjadi pembelajaran secara jejaring (pesertadidik dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet);
  4. Pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran pesertadidik aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan sains);
  5. Pola belajar sendiri menjadi belajar kelompok (berbasis tim); Pola pembelajaran alat tunggal menjadi pembelajaran berbasis alat multimedia;
  6. Pola pembelajaran berbasis massal menjadi kebutuhan pelanggan (users) dengan memperkuat pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap pesertadidik;
  7. Pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (monodiscipline) menjadi pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (multidisciplines); dan
  8. Pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran kritis. 
Buku PJOK Kelas 12 Kurikulum 2013-Kurikulum Nasional SMA-SMK-MA Revisi 2015 Silahkan Download semua. Bagi yang membutuhkan Buku PJOK Kelas 12 Kurikulum 2013-Kurikulum Nasional SMA-SMK-MA Revisi 2015 silahkan Pilih aja sesuai kebutuhan saudara-saudara sekalian, pada link di bawah ini. Buku PJOK/PENJASKES Kelas XII-12 ini sudah termasuk buku guru dan buku siswa semester 1-2 revisi 2015:

PJOK
| Buku Guru SMA Kurikulum 2013-Kurikulum Nasional Revisi 2015 KelasXII PJOK.Pdf

| Buku Siswa SMA Kurikulum 2013-Kurikulum Nasional Revisi 2015 KelasXII PJOK.Pdf

Masukkan email anda.



Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya.
1. Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang baik
3. Mohon untuk berkomentar 1 kali saja untuk topik yang sama.
4. Setiap komentar yang dikirim menunggu persetujuan Admin untuk di terbitkan.

[blogger][facebook]

Filenya.com

{google-plus#https://plus.google.com/+FilenyaCom/}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget